Gue pernah duduk di ruang interview sebuah perusahaan di Jakarta Selatan. Semuanya lancar sampai HRD nanya satu hal yang bikin gue diam lima detik: "Kalau ada meeting mendadak jam 7 malam, kamu bisa?"
Informasi selengkapnya bisa dibaca di 18TOTO.
Pertanyaan itu sederhana. Tapi buat gue yang punya anak balita dan istri yang juga kerja, jawabannya nggak sesederhana "bisa, dong". Karena di rumah, jam 7 malam itu jam mandi anak, jam makan bareng, jam cerita sebelum tidur. Jam yang kalau hilang, nggak bisa di-refund.
Nah, tulisan ini bukan tentang cara jawab pertanyaan interview. Ini tentang hal yang jarang banget dibahas di artikel karier: ongkos tersembunyi dari kenaikan gaji. Khususnya buat kita yang udah punya keluarga kecil dan tinggal di kota besar.
Baca juga: Tiap Pagi Latihan 10 Menit, Pemula Berani Wawancara Kerja
Baca Juga: linkgamingbet99.net
Gaji Naik Dua Juta, Tapi Ada yang Ikut Naik Juga
Ini yang nggak pernah ditulis di slip gaji. Setiap kali kamu naik jabatan atau pindah ke perusahaan dengan tawaran lebih tinggi, biasanya ada paket tersembunyi yang ikut datang: jam kerja lebih panjang, on-call di weekend, perjalanan dinas lebih sering, atau pindah lokasi yang bikin commute jadi dua jam sekali jalan.
Gue bukan bilang jangan ambil. Tapi coba hitung dulu dengan cara yang jarang orang pakai.
Misalnya tawaran baru naikin gaji kamu Rp3 juta per bulan. Kedengarannya besar. Tapi kalau kerjaan baru itu bikin kamu pulang rata-rata dua jam lebih lambat setiap hari, artinya kamu kehilangan sekitar 40 jam sebulan bareng keluarga. Kalau dibagi, itu sekitar Rp75 ribu per jam. Sekarang pertanyaannya: apakah satu jam main sama anak kamu harganya cuma Rp75 ribu?
Buat gue, nggak. Dan gue rasa buat banyak orang tua di kota besar juga nggak.
Biaya yang Nggak Kelihatan di Kota Besar
Ada lagi yang bikin hitungan makin rumit. Di kota besar, waktu yang hilang itu sering harus "dibeli" balik pakai uang.
Untuk topik 18TOTO - Cara Verifikasi Akun Pragmatic Play Terbaru Agar Transaksi Lancar Tanpa Kendala, baca ulasan lengkapnya di sini.
- Karena kamu pulang malam, makan malam keluarga jadi pesan delivery terus. Naik Rp1,5 juta sebulan.
- Karena nggak sempat antar-jemput, anak ikut daycare tambahan atau pakai jasa titip. Naik Rp1 juta.
- Karena capek terus, akhir pekan jadi momen "balas dendam" dengan jalan-jalan mahal. Naik Rp1 juta lagi.
Jumlahkan. Kenaikan Rp3 juta tadi bisa ludes jadi cuma Rp500 ribu bersih. Dan itu belum dihitung hal yang paling mahal: energi kamu.
Gue pernah ngalamin fase ini setahun. Gaji naik, tapi gue jadi orang yang gampang marah di rumah. Anak nanya sesuatu, gue jawab sambil lihat laptop. Istri cerita soal hari-nya, gue cuma manggut-manggut. Secara finansial kami lebih baik. Secara keluarga, kami lagi sekarat dan nggak sadar.
Karier itu maraton yang panjang. Tapi masa kecil anak itu sprint yang cuma sekali dan nggak ada perpanjangan waktu.
Pertanyaan Wawancara yang Jarang Ditanya, Padahal Krusial
Waktu kamu interview, biasanya kamu sibuk nyiapin jawaban soal kelebihan, kelemahan, dan kenapa mau pindah. Tapi ada beberapa hal yang justru lebih penting buat ditanyakan balik ke perusahaan. Bukan buat gaya-gayaan, tapi buat ngukur apakah hidup keluargamu bakal hancur atau nggak.
Baca Juga: Sesi pertamamu bisa jadi momen yang paling kamu tunggu-tunggu!
Beberapa hal yang gue selalu tanyakan sekarang:
- Jam kerja realistisnya jam berapa? Bukan yang tertulis di kontrak, tapi yang benar-benar terjadi di tim itu.
- Apakah ada kebijakan hybrid atau fleksibel? Buat orang tua di kota besar, ini bisa menyelamatkan 2 jam commute per hari.
- Bagaimana budaya meeting di luar jam kerja? Kalau jawabannya "tergantung", itu artinya sering.
- Apakah cuti bisa dipakai buat hal non-darurat? Kadang orang tua butuh cuti buat nemenin anak sakit, bukan buat liburan.
- Seberapa sering orang di tim ini resign? Kalau rotasinya tinggi, ada yang salah di sana.
Nanyain hal-hal ini di interview bukan berarti kamu nggak ambisius. Justru sebaliknya. Orang yang tahu batasannya biasanya kerja lebih fokus dan lebih lama bertahan.
Bukan Soal Pilih Keluarga atau Karier
Ini yang sering salah dimengerti. Banyak yang mikir kalau kamu mulai nolak promosi atau pindah kerjaan demi waktu sama anak, artinya kamu "mengorbankan karier". Padahal nggak gitu.
Untuk topik 18TOTO - Cara Verifikasi Akun Pragmatic Play Terbaru Agar Transaksi Lancar Tanpa Kendala, baca ulasan lengkapnya di sini.
Yang gue pelajari setelah beberapa tahun berjuang di kota besar: karier itu bukan cuma naik jabatan. Karier juga soal bertahan lama tanpa kehilangan diri sendiri. Dan orang yang burnout di rumah biasanya juga burnout di kantor. Cepat atau lambat.
Gue punya teman yang milih tetap di posisi yang sama selama lima tahun karena jam kerjanya manusiawi. Tiap tahun dia ditawarin naik, dan tiap tahun dia nolak dengan sopan. Orang-orang kantornya mikir dia nggak punya ambisi. Tapi yang nggak mereka tahu, dia tiap hari bisa makan malam bareng anaknya dan nonton film bareng istri. Buat dia, itu kemenangan yang lebih nyata daripada titel.
Di sisi lain, ada juga teman yang ambil semua tawaran, kerja 12 jam sehari, dan sekarang jadi direktur di usia 35. Anaknya udah SMP dan mereka nggak dekat. Dia sendiri yang cerita ke gue, sambil minum kopi, "Gue kaya tapi gue nggak kenal anak gue."
Nggak ada jawaban yang benar buat semua orang. Tapi yang penting: keputusan itu harus diambil sadar, bukan karena ikut arus.
Banyak pasangan muda di kota besar jatuh ke jebakan ini tanpa sadar. Mereka ambil kerjaan baru karena "katanya bagus", pindah ke perusahaan karena "katanya prestisius", tanpa pernah benar-benar duduk berdua sama pasangan dan ngitung: apa yang bakal kami korbankan?
Padahal obrolan itu cuma butuh 30 menit. Duduk, buka kalkulator, tulis angka, dan tanya satu sama lain: kita lagi beli apa sebenarnya?
Kalau jawabannya "masa depan anak", pastikan dulu definisi masa depannya apa. Karena kadang yang anak butuh bukan uang lebih, tapi bapak dan ibunya yang nggak capek terus.
Gue nggak tau posisi kamu sekarang. Mungkin kamu lagi mikir ambil tawaran baru. Mungkin lagi mikir resign. Mungkin lagi di tengah proses interview dan deg-degan. Apapun itu, coba sisihkan 30 menit malam ini buat ngobrol sama pasangan. Bukan soal angka di rekening, tapi soal jam berapa kamu bakal sampai rumah tiap hari.
Karena di kota besar yang serba cepat ini, waktu bareng keluarga itu bukan sisa. Itu justru bagian utamanya.