Gue masih ingat banget momen tiga tahun lalu, waktu duduk di kamar kos sempit di Jogja, nonton video YouTube tentang "cara jawab pertanyaan wawancara" sambil ngerasain campur aduk antara takut dan bingung. Sebagai anak rantau yang jauh dari orang tua, nggak ada yang bisa gue tanya langsung soal dunia kerja. Bapak di kampung kerjanya dagang, Ibu ibu rumah tangga. Lingkaran gue ya sebatas temen-temen kampus yang sama-sama nggak ngerti apa-apa.
Untuk topik 18TOTO - Cara Verifikasi Akun Pragmatic Play Terbaru Agar Transaksi Lancar Tanpa Kendala, baca ulasan lengkapnya di sini.
Nah, dari pengalaman itu, gue pengen jawab pertanyaan-pertanyaan yang paling sering banget muncul dari mahasiswa perantau kayak kita. Bukan jawaban textbook. Jawaban jujur dari orang yang udah lewatin.
"Kapan sih harus mulai nyiapin karier? Kan masih semester awal..."
Pertanyaan ini yang paling sering gue denger. Dan jawabannya: sekarang. Bukan besok, bukan nunggu semester 5, bukan nunggu lulus.
Baca juga: 5 Mitos Karier Kota Besar yang Bikin Bapak-Ibu Rugi Waktu
Baca Juga: hantugamecenter.com
Tapi tenang, bukan berarti kamu harus langsung cari kerja. Yang gue maksud nyiapin karier itu luas. Mulai dari kenalan sama orang di bidang yang kamu minati, ikut organisasi yang beneran ngasih skill, atau sekadar baca-baca tentang industri yang mau kamu masuki. Waktu gue semester 2, gue cuma ikut kepanitiaan kampus. Nggak nyangka dari situ gue belajar komunikasi sama senior, dan ternyata skill itu kepake banget waktu wawancara nanti.
Informasi selengkapnya bisa dibaca di kfcp yy.
Masalahnya, anak rantau sering ngerasa sendirian. Nggak ada kakak atau om yang bisa kasih gambaran. Solusinya? Bangun jaringan sendiri. LinkedIn itu bukan cuma buat orang kantoran, kamu juga bisa mulai dari sekarang. Follow orang-orang yang kerjanya sesuai minat kamu, baca postingan mereka, sesekali komen yang relevan. Nggak usah malu, itu normal.
"Aku nggak punya pengalaman kerja, gimana mau diterima?"
Ini klasik banget. Dan gue mau jujur: hampir semua fresh graduate ngerasain hal yang sama. Kamu nggak sendirian.
Yang perlu kamu sadari, pengalaman itu nggak harus berupa kerja formal di kantor. Organisasi kampus? Itu pengalaman. Jadi panitia acara? Itu pengalaman. Bantu jualan online punya tetangga? Itu juga pengalaman. Kuncinya adalah gimana kamu mengemas pengalaman itu di CV dan wawancara.
Contoh nih, waktu gue jadi ketua divisi konsumsi acara kampus, gue cuma ngerasa "ya cuma beli nasi kotak doang". Tapi waktu ditulis di CV, jadi: "Mengelola anggaran Rp 15 juta untuk kebutuhan konsumsi 200 peserta, berkoordinasi dengan 3 vendor berbeda." Jauh lebih keren kan? Bukan bohong, cuma dikemas lebih baik.
Yang penting bukan apa yang kamu lakuin, tapi gimana kamu ceritain dampaknya.
Untuk mahasiswa perantau yang mungkin nggak punya akses ke magang bergengsi di Jakarta, ingat ini: perusahaan nggak selalu cari kandidat dari kampus top. Mereka cari orang yang bisa nunjukin mereka mau belajar dan bisa diandalkan. Kadang sikap itu lebih penting daripada nama kampus.
"Pertanyaan wawancara yang paling bikin aku bingung itu apa?"
Banyak yang bilang "ceritakan tentang diri kamu" itu jebakan. Menurut gue sih bukan jebakan, tapi memang pertanyaan yang paling sering bikin orang gagap karena nggak nyiapin.
Untuk topik 18TOTO - Cara Verifikasi Akun Pragmatic Play Terbaru Agar Transaksi Lancar Tanpa Kendala, baca ulasan lengkapnya di sini.
Saatnya memberi warna baru pada rutinitas harianmu mulai hari ini!
Cara jawab "ceritakan tentang diri kamu"
Jangan cerita dari lahir kayak lagi nulis biografi. Cukup 3 poin: siapa kamu sekarang, apa yang kamu bisa, dan kenapa kamu ada di ruangan itu. Misalnya: "Saya lulusan komunikasi yang selama kuliah aktif di organisasi kepemimpinan. Saya tertarik banget sama bidang marketing karena waktu jadi panitia acara saya belajar gimana caranya narik peserta lewat promosi. Makanya saya melamar posisi ini."
Simpel, padat, dan langsung nyambung ke posisi yang dilamar. Latih ini di depan cermin atau rekam pakai HP. Gue dulu rekam diri sendiri dan cringe banget nontonnya, tapi itu ngebantu banget.
Pertanyaan soal gaji, jawabnya gimana?
Ini yang bikin anak rantau paling panik. Karena kita nggak punya benchmark, kita takut minta terlalu tinggi atau terlalu rendah. Saran gue: riset dulu di Glassdoor, LinkedIn Salary, atau tanya senior. Kalau ditanya ekspektasi gaji, jangan langsung sebut angka tanpa konteks. Bilang aja: "Berdasarkan riset saya untuk posisi ini di industri serupa, kisaran yang saya harapkan ada di angka X sampai Y. Tapi saya terbuka untuk diskusi."
Ingat, negosiasi gaji itu normal. Yang nggak normal itu diam aja dan nerima berapapun yang dikasih.
"Aku anak rantau, nggak punya koneksi. Gimana caranya bersaing?"
Gue ngerti banget perasaan ini. Temen-temen gue yang dari Jakarta punya om, tante, atau kakak yang bisa referensiin ke perusahaan. Sementara kita? Nol.
Tapi dengerin deh, koneksi itu bisa dibangun. Nggak harus dari keluarga. Mulai dari alumni kampus kamu yang udah kerja. Cari mereka di LinkedIn, kirim pesan sopan, tanya boleh nggak minta waktu 15 menit buat ngobrol soal pengalaman mereka. Nggak semua bakal balas, tapi yang balas biasanya senang bantu.
Gue dulu ngelakuin ini ke lima alumni. Dua balas, satu akhirnya jadi mentor informal gue sampai sekarang. Dari dia gue dapet info lowongan yang nggak pernah gue temuin di job portal. Jadi ya, usaha itu nggak pernah sia-sia.
- Mulai bangun jaringan dari sekarang, bukan pas butuh
- Kemas pengalaman kuliah jadi cerita yang punya dampak
- Latih jawaban wawancara, terutama "ceritakan tentang diri kamu"
- Riset gaji sebelum negosiasi, jangan asal sebut angka
- Jangan malu ngehubungin alumni, itu bukan hal memalukan
Pada akhirnya, jadi mahasiswa perantau itu punya satu keunggulan yang sering kita lupakan: kita udah terbiasa survive sendirian. Kita udah belajar ngurus diri sendiri, ngatur uang, dan ngadepin masalah tanpa ada yang langsung nyampein. Skill-skill itu, tanpa kamu sadari, adalah modal besar di dunia kerja.
Jadi kalau hari ini kamu masih duduk di kamar kos, ngerasa jauh dari rumah dan bingung soal masa depan, tenang. Semua orang yang sekarang udah kerja pernah ada di posisi kamu. Bedanya cuma satu: mereka nggak berhenti nyoba. Kamu juga jangan.